Mengenal Makna Falsafah dan Identitas Historis Kota Yogyakarta

Written By Jandika on Sunday, April 3, 2011 | 9:55:00 AM



Peta Konsep Jogjakarta

Monumen penting Yogyakarta bukanlah bangunan monumental yang megah, melainkan poros historis filosofis Krapyak-Keraton-Tugu. Pada umumnya warga Yogyakarta sudah memahami maknanya, struktur kota memiliki filosofis simbolis yang berdasar pada garis imajiner Gunung Merapi-Tugu-Keraton – Panggung Krapyak-Laut Selatan (Parang Kusumo).

Keraton Yogyakarta dikelilingi Beteng Baluwarti. Secara historis kultural, bangunan-bangunan itu berorientasi pada keberadaan keraton dan garis imajiner, baik di dalam maupun di luar beteng.Yogyakarta pada umumnya memiliki empat komponen utama. Bentuk seperti ini disebut caturgatra tunggal atau empat komponen dalam suatu kesatuan. Keempat komponen itu adalah keraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Kawasan Jeron Beteng yang dikelilingi Beteng Baluwarti -artinya beteng pagar bata- mempunyai lima pintu gerbang yang disebut plengkung.

Nama-nama kampung di Jeron Beteng amat lekat dengan Keraton Yogyakarta. Nama-nama itu biasanya menunjuk pada nama abdi dalem keraton yang tinggal di situ. Banyak pusaka budaya dan pusaka alam yang berharga, seperti Keraton dan taman sari.Kelengkapan fisik, sarana, prasarana, estetik, etik, simbol, dan filosofis-religius eksistensinya mempunyai koherensi dengan berbagai rancangan sebagaimana fungsi dan maknanya.

Ciri-ciri dan makna tersebut pada dasarnya melekat dalam elemen bangunan, ruang suatu bangunan, bangunan, kelompok bangunan, maupun lingkungannya.Yogyakarta sebagai kota yang mempunyai ciri khas dan keunikan, secara khusus mempunyai struktur bermakna filosofis - simbolis, yaitu berdasarkan garis imajiner (G. Merapi - Tugu - Keraton - Panggung Krapyak (Laut selatan ) . 

Garis poros di dalam tata rakit keraton tersebut konfigurasi fisiknya merupakan suatu bagian dari tata Kota Yogyakarta. Secara historis-kultural bangunan-bangunan yang ada berorientasi pada keberadaan keraton, yaitu berada di dalam benteng dan lingkungan sekitarnya, bangunan yang ada bercorak arsitektur jawa berupa joglo, limasan, kampung . 

Penggalian pusaka Jeron Beteng, di Yogyakarta sebagai pelestarian peninggalan budaya untuk memperluas makna keraton sebagai simbol penting dari peninggalan budaya Kesultanan Yogyakarta. 

Dari segi sejarah akan menarik lebih banyak wisatawan yang berkunjung di Indonesia . Proses interaksi sosial budaya masyarakat di dalam kota melahirkan kompleksitas produk budaya, baik budaya material (material culture) maupun budaya hidup (living culture) yang berupa pranata sosial, seni, adat-istiadat, etik, estetik, dan filosofis-religius. Wujud kompleksitas produk budaya pada satu sisi akan dijiwai dan sesuai dengan konteks, langgam, dan ikatan budayanya, di sisi lain juga memunculkan kemajemukan atau keragaman tinggalan budaya.

Poros panggung Krapyak-Kraton

Secara lengkap struktur tata rakit bangunan Keraton Yogyakarta membujur dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke Keraton (arah utara) dihubungkan dengan jalan lurus (Jl DI Panjaitan, dahulu Jl Gebayanan) dan untuk ke dalam benteng keraton dihubungkan dengan Gerbang Nirboyo (Plengkung Gading)-Alun-alun selatan (Pungkuran) Siti Hinggil selatan (sejak 1955 sampai sekarang Sasono Hinggil Dwi Abad)-Regol Gadung Mlathi-Regol Magangan. 

Secara filosofis - simbolis tata rakit bangunan tersebut melambangkan perjalanan atau proses kehidupan manusia dari kandungan, lahir, sampai dengan aktivitas hidupnya (magang). Di sebelah utara Regol Magangan adalah Kedaton, yang mempunyai makna keberadaan manusia. Di sepanjang kiri-kanan jalan dari Krapyak ke Keraton dilengkapi pepohonan khas yang mempunyai makna tertentu, antara lain, asem, garam, jambu dersono, kweni, beringin dan sawo kecik. 

Vegetasi yang khas tersebut-terutama pohon sawo kecik-juga menjadi ciri bagi dalem-dalem bangsawan.Keraton dikelilingi oleh benteng baluwarti (bagian paling luar) dan cepuri (bagian dalam) atau mengelilingi dalem Kedaton. Untuk memasuki benteng Keraton ada 5 (lima) gerbang utama, yaitu Gerbang Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura, dan Madyasura serta jejalur dan simpul-simpul jalan yang mendukung komunikasi dan transportasi antar kawasan. Kondisi lingkungan di kawasan selatan Keraton dan di dalam benteng saat ini masih menampakkan ciri-ciri yang serasi dengan keberadaan Keraton, proses perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak secara drastis. Pola perkampungan tradisionl masih terlihat, kondisi tersebut memperkuat kekhasan toponim kampung yang masih ada keterkaitan dengan tata rakit Keraton.

Poros Siti Hinggil Keraton-Tugu Antara keraton dan tugu dihubungkan dengan jalan lurus (Jl Letjen Achmad Yani, dahulu Jl Margamulya, Jl Malioboro, Jl P Mangkubumi, dahulu Jl Margatama) yang membujur dari selatan ke arah utara. Di sepanjang jalan tersebut ada beberapa bangunan yang merupakan tinggalan struktur kota lama, antara lain: dalem Kepatihan (sekarang Kantor Gubernur) dan Pasar Beringharjo. Di samping itu, di dalam proses interaksi budaya dengan komunitas asing (Eropa) melahirkan keragaman produk budaya berupa bangunan-bangunan era-kolonial bercorak indis, antara lain: Gedung Agung, Vredeburg, Nilmij (sekarang Bank BNI), Hotel Garuda, dan Hotel Tugu. Di samping itu, juga komunitas pecinan di sekitar Pasar Beringharjo-Malioboro, antara lain: kawasan Ketandan, Gandekan, Bekalan, dan Pajeksan.

Secara historis-kultural dari Siti Hinggil (Keraton) raja (sultan) duduk (lenggah siniwoko) konsentrasi ke arah utara dari Alun-alun sampai dengan puncak Tugu. Jalan poros Siti Hinggil (Keraton) sampai dengan Tugu secara historis merupakan simbol kesempurnaan keberadaan raja di dalam proses kehidupannya yang dilandasi manembah kepada Yang Maha Tinggi serta satu tekad dengan rakyatnya (golong-gilik). Hal itu dilakukan setelah mampu melakukan transendensi tantangan hidup duniawi, yaitu manunggalnya raja-rakyat (makna beringin kurung di Alun-alun), tantangan ekonomi (dilambangkan dengan pasar), godaan kekuasaan (dilambangkan kepolisian), dan pengaruh asing (Benteng Vredeburg), (Brongtodiningrat, 1975).

Perlu diketahui, bahwa bentuk Tugu masa Sultan Hamengku Buwono I sampai VI melambangkan makna golong-gilik (satu tekad) antara raja-rakyat, yaitu bagian puncak bulatan (golong) dan bagian bawah berbentuk silindris (gilik). Tugu tersebut kemudian runtuh akibat adanya gempa bumi tektonik di Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867, hal ini ditandai dengan surya sengkala Hargo Molah Dening Sanghyang Naga Bumi. Bentuk Tugu seperti sekarang adalah hasil renovasi masa Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 7 Sapar 1819 (3 Oktober 1889). Kondisi lingkungan saat ini-dilihat dari aktivitas-aktivitas masyarakat di kawasan itu-menampakan tarik menarik kepentingan antara aspek sosial, ekonomi, tata kota dan nilai kultural. Lingkungan yang menjadi tempat sarat beban dan tarik menarik kepentingan ini mengalami perubahan dan perkembangan yang cepat.

Poros Tugu-Keraton-Panggung Krapyak pada dasarnya merupakan kawasan urban yang mempunyai beberapa komponen yang signifikan bagi masyarakat. Secara historis kawasan tersebut juga merupakan kawasan yang tumbuh, berkembang, dan berinteraksi secara berkelanjutan. Di dalam konteks kekinian, bahwa kawasan urban tersebut dapat membangun gambaran (image) bagi masyarakat luas. Komponen kawasan yang dapat membangun citra maupun gambaran tersebut memiliki ciri khas dan keunikan, baik jejalur (paths), batas-batas wilayah (edges), segmen kawasan (districs), simpul (nodes), dan landmark (tanda fisik kawasan yang menonjol).

Nilai historis-kultural, filosofis, dan arsitektural “Poros Imajiner” tersebut merupakan identitas yang mempunyai karakter dan potensi. Keberadaan lingkungannya perlu terus dilindungi, oleh undang undang sehingga keberadaan poros dan produk budaya yang ada tetap “monumental” dan menjadi “daya-magnet” bagi Kota Yogyakarta. Penciptaan poros imajiner ini selaras dengan konsep Tri Angga (Parahyangan, Pawongan, Palemahan atau Hulu, Tengah, Hilir serta nilai Utama, Madya, Nisha). 

Secara simbolas filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablunmin Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Yogyakarta dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruto) dan akasa (either).

Adapun filosofi Panggung Krapyak ke Utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak (Brotodiningrat 1978). Visualisasi dari filosofi ini diwujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, pohon asem (tamarindus indica) dengan daun yang masih muda bernama sinom melambangkan gadis yang masih anom (muda) selalu nengsemaken (menarik hati) maka selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (mimusopselengi).

Di alun-alun selatan mengggambarkan manusia dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akilbaligh yang dilambangkan dengan pohon kweni (mangifera odoranta) dan pohon pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan panah yang dilepas dari busurnya.

Sampai di Sitihinggil selatan pohon yang ditanam pelem cempora (mangifera indica) yang berbunga putih dan pohon soka (ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih di dalam kandungan dengan vegetasi pohon pelem (mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon jambu dersono (eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon kepel (stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi.

Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa. Sebaliknya dari tugu pal putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Khalik. Golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro (memakai obor atau pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melalui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif). Sepanjang jalan Margotomo, Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon asem (tamarindus indica) yang bermakna sengsem atau menarik dan pohon gayam (inocarpus edulis) yang bermakna ayom atau teduh.(Srt Bid.II PPI)

Kraton Kasultanan Yogyakarta

Kraton Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengkubu Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada mulanya, lokasi Kraton sekarang ini merupakan daerah rawa yang bernama Umbul Pacethokan, yang kemudian dibangun menjadi sebuah pesanggrahan Ayodya.Sebagaimana bangunan kraton pada kerajaan-kerajaan Jawa umumnya, Kraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara. Bangunan terluar berupa benteng kraton yang dibuat dari batubata merah dengan ketebalan sekitar 4 meter. Benteng ini melingkari kraton sepanjang 4 kilometer persegi, dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Susunan bangunan Kraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan : Alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, Kraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan terakhir pada Alun-alun Selatan.

Pada jaman kerajaan, Alun-alun Utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat, disamping digunakan untuk upacara-upacara adat seperti Grebeg, Sekaten, dan lain-lain. Keberadaan Alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa Sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Pada bangunan Pagelaran dan Siti Hinggil terdapat adegan pisowanan (persidangan) para pejabat kerajaan dengan Sultan. Para pejabat kerajaan duduk di bangunan Pagelaran, sedangkan tempat duduk Sultan terletak pada bangsal Manguntur Tangkir yang terletak di bangunan Siti Hinggil. Di belakang bangsal Manguntur Tangkir, terdapat bangsal Witana, yaitu tempat untuk menyimpan lambang-lambang kebesaran kerajaan yang digunakan dalam upacara.

Bangunan kedua dari kraton bernama Keben atau Kemandungan lor. Bangunan utamanya bernama bangsal Ponconiti, yaitu bangsal pengadilan khususnya yang berkenaan dengan lima perkara besar yang diancam hukuman mati. Sekarang ini, pada bangunan ini terdapat kantor Tepas Pariwisata Kraton. Pada bagian ini terdapat bangsal Trajumas di sebelah kiri dan bangsal Sri Manganti di sebelah kanan. Pada bangsal Trajumas terdapat berbagai peralatan upacara tradisional, sedangkan pada bangsal Sri Manganti terdapat berbagai acara kesenian seperti tari-tarian klasik, karawitan, dan wayang kulit.

Bangsal Sri Manganti dahulu merupakan tempat Sultan menanti dan menerima tamu-tamu agung. Sri Manganti sendiri berarti Raja menanti. Setelah bangsal Sri Manganti, terdapat regol Donopratopo, yaitu sebuah gerbang yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton.

Gerbang ini dijaga oleh patung Dwarapala dan Gupala.Keduanya diberi nama, masing-masing,Cingkarabala dan Balaupata yang melambangkan kepribadian mulia manusia untuk selalu menggemakan kebaikkan dan melarang perbuatan yang jahat.Pada bangunan ini kraton, terdapat beberapa bangsal.

Bangsal Purnaretna, yaitu tempat Sultan bekerja, letaknya bersebelahan dengan bangunan bertingkat yang diberi nama Panti Sumbaga. Bangunan ini merupakan perpustakaan pribadi Sultan. Pada bagian lainnya terdapat Gedong Kuning, yaitu istana tempat tinggal Sultan, yang letaknya bersebelahan dengan Traju Tresna, yaitu tempat Sultan menanyakan kesanggupan putra-putrinya yang akan menikah.

Di bagian lain dari inti kraton terdapat bangsal Kencono, yaitu tempat upacara penobatan Sultan dan para pangeran. Di samping itu, bangsal ini kadang kala digunakan untuk menerima tamu-tamu agung yang berhubungan dengan Kasultanan. Di sebelah barat bangsal Kencono, sekarang ini terdapat museum Sri Sultan HB XI. Di balik bangsal Kencono, terdapat bangsal Prabayeksa, yaitu tempat penyimpanan pusaka-pusaka kraton.

Bangsal ini menjadi bagian paling sakral dari seluruh lingkungan bangunan kraton. Bagian lainnya adalah bangsal Manis, yaitu tempat perjamuan atau pesta, dan Gedong Patehan,yaitu tempat untuk menyiapkan minuman. Kompleks Kraton Yogyakarta setiap hari dibuka untuk masyarakat umum mulai dari pukul 07.30-13.00, kecuali pada hari Jumat ali sampai dengan 11.00 WIB

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih untuk tidak melakukan SPAM
Baca juga artikel menarik yang lainnya di :
http://veiledveiled.blogspot.com/

Tips Unik

Daftar Postingan